“Awalnya Gereja Paskalis merupakan sebuah stasi dari Paroki Keluarga Kudus Kramat yang meliputi wilayah / daerah Tanah Tinggi. Pembinaan umat Katolik di stasi ini dilakukan oleh Pastor N. Geise, OFM. Dimana setiap Minggu pagi, beliau mempersembahkan Korban Misa Kudus bagi umatnya di wilayah Tanah Tinggi, dengan bertempat di sebuah kantin A.T.T (Algemene Transport Troepen/tempat rekreasi para tentara Belanda) yang terletak di Jl.Petruk.

Bila hari Minggu pagi, mulai jam 05.00 para umat membenahi kantin tersebut untuk dijadikan tempat ibadah, melaksanakan misa kudus yang dilaksanakan pada jam 07.00 ……..”

 

Tahun 1947

Setelah dana terkumpul dimulailah pembangunan gedung serba guna yang dapat berfungsi sebagai tempat ibadah, tempat musyawarah serta tempat belajar untuk anak-anak. Pembangunan gedung serbaguna ini, walaupun sederhana dan lokasi kurang memadai namun dapat diselesaikan dalam waktu beberapa bulan. Kemudian menyusul pembangunan kapel yang sekaligus berfungsi sebagai tempat tinggal para pastor. Kapel ini terletak di Jl. Tanah Tinggi 80, rumah Bp. Ong, yang berhasil dibujuk oleh Bp. De Graza untuk menukar rumah tersebut dengan rumah di Jl. Petruk.

Pada tahun ini pula Pastor N. Geise,OFM dipindah tugas ke Sukabumi. Tugasnya diganti oleh Pastor Van Meer,OFM dengan dibantu Pastor Demmers,OFM. Dibawah bimbingan para Pastor tersebut kegiatan umat semakin meningkat disertai usaha pencarian dana untuk membangun gedung gereja. Di atas sebidang tanah di Jl. Tanah Tinggi Poncol 80, dimana pembeliannya diupayakan dengan keras oleh Bp. D.T.H.Lay, dibangunlah gedung Gereja Santo Paskalis dan akhirnya dikenal dengan Paroki Tanah Tinggi.

 

Tahun 1952

Gereja yang telah berdiri masih sangat sederhana. Namun para umat tidak berhenti berupaya terus menghimpun dana untuk membangun gedung gereja yang lebih baik. Upaya para umat, terutama ibu-ibu yang dikenal dengan nama “Wijkwerksters” (a.l terdiri dari Ny. Hoffman, Ny. De Graza, Ny. Ehrencron, Ny. Jackson, Ny. Natalia, Ny. Tjia, Ny. Vertome, Ny. v.d.Pool, Ibu Kadarwati) dan dikoordinasi oleh Bp. R.Ch.J.Widisiswoyo, Bp. Lay (Suryaputra) serta Bp. De Graza, akhirnya membuahkan hasil dengan dibangunnya gedung gereja yang sederhana, pantas dan nyaman. Diresmikanlah gedung gereja ini dengan nama Gereja Santo Paskalis. Pestanya dirayakan setiap tanggal 17 Mei. Pemberkatan gedung gereja yang baru dilakukan oleh Mgr. P.Willekens,SJ pada hari Minggu tanggal 18 Mei 1952.

Pada tangggal 13 Mei 1952, para anggota Pengurus Gereja dan Dana Papa (PGDP) yang pertama diangkat oleh Mgr. P.Willekens,SJ. Mereka terdiri dari : Ketua merangkap Bendahara (Pastor Joeel FAPR van Meer), anggota : Bp. R.Ch.J.Widisiswoyo dan Bp. D.Th.Lay (Suryaputra).

Pada tahun ini dari hasil pendataan umat tercatat umat jumlah paroki sebanyak 1.200 jiwa terdiri dari 250KK yang tersebar di wilayah sekitar  Kota Paris (komplek wayang), Galur, Kampung Rawa, Kramat Kwitang (Tangki Penggorengan), Jl. Mahoni, Komplek Jattop, Harapan Mulia, Kemayoran Gempol-Serdang.

 

Tahun 1956

Pastor Van Meer,OFM pindah tugas ke Depok. Digantikan oleh Pastor JGM Pruim,OFM sebagai Pastor Kepala merangkap sebagai Bendahara PGDP.

 

Tahun 1961

Pastor JGM Pruim,OFM menjalani masa cuti. Digantikan oleh Pastor Remmen,OFM dengan dibantu Pastor Rijper.

 

Tahun 1962

Tepat tanggal 26 September 1962 terbentuk Wanita Katolik RI cabang Santo Paskalis.

 

Tahun 1963

Pastor Remmen, OFM wafat dan dimakamkan di pemakaman Menteng Pulo. Penggantinya adalah Pastor Rijper dibantu oleh Pastor Mariani,OFM dari Brazilia.

 

Tahun 1965

Pastor Pruim,OFM kembali bertugas dengan dibantu Pastor Mariani,OFM. Pastor Pruim membentuk pelayanan untuk mengurus orang meninggal bagi umat yang membutuhkan yang dinamakan St.Yusuf. Kepengurusannya ditugaskan kepada Pastor pembantu yaitu Pastor Partosudarmo,OFM dan Bp.Lay Suryaputra. Bentuk pelayanan St.Yusuf meliputi pengurusan jenazah, mobil jenazah(ambulance), peti mati serta tanah makam. Seluruh bentuk pelayanan ini diberikan secara gratis kepada para umat paroki. Untuk mengurangi biaya Paroki membuat sendiri peti mati dan kelengkapannya. Paroki juga mendapat bantuan dari Astra berupa mobil Toyota Land Cruisse yang dirubah sebagai ambulance/mobil jenazah. Ambulance ini telah berjasa melayani umat selama 7 tahun.

Perkumpulan doa yang ada di kawasan Serdang-Kemayoran yang semula dihadiri oleh 10-15 Kepala Keluarga semakin  berkembang. Jumlah umat yang hadir semakin bertambah sehingga diperlukan pendampingan imam/pastor. Mulai tahun ini diadakan misa mingguan secara tetap di rumah Bp. Robertus Ramelan. Pastor yang melayani antara lain Pastor Pruim, Pastor Mariani, Pastor Reiss, Pastor Rijper, Pastor Brod, Pastor Salim dan bahkan pernah dikunjungi oleh Mgr. Leo Sukoto,SJ.

 

Tahun 1967

Seiring dengan semakin berkembangnya umat Paroki maka pada tahun ini mulai dibentuk wilayah-wilayah dimana setiap wilayah terdiri dari beberapa lingkungan. Hal ini dimaksudkan agar kegiatan-kegiatan umat dapat berjalan dengan lebih baik dan sejalan dengan pembaharuan peraturan Gereja setelah Konsili Vatikan II.

Pada tahun ini dibentuk bidang pelayanan pendidikan dan atas penawaran dari Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) Paroki Paskalis mengelolah sekolah-sekolah Perguruan Strada. Dibentuklah Pengurus Strada cabang Tanah Tinggi, diketuai oleh Pastor YGM Pruim,OFM dibantu oleh F. Djarwarasa (Sekretaris) dan Yos Dwiyati Sutarmo (Bendahara).

 

Tahun 1968

Selain pendidikan formal Paroki Paskalis juga memperhatikan pendidikan keagamaan bagi para umatnya, khususnya anak-anak. Pada tanggal 9 Februari 1968 diresmikanlah sekolah minggu yang pertama di Paroki Paskalis, namanya Sekolah Bethlehem. Diresmikan oleh Pastor YGM Pruim,OFM di rumah Keluarga H.J. Oetomo.

Tanggal 30 April 1968, Pastor YGM Pruim,OFM pindah tugas ke Kathedral Bogor. Gereja Paskalis diperbantukan oleh Pastor G. Brod,OFM.

 

Tahun 1970

Pastor G. Brod,OFM menggantikan Pastor YGM Pruim,OFM. Dibantu Pastor Bonaventura,OFM; Pastor Kopong Ratu,OFM, dll. Pada tahun ini, Pastor Brod, sebagai Pastor Kepala Paroki Tanah Tinggi, membeli sebuah rumah yang berjarak sekitar 100m dari rumah Bp. Ramelan. Rumah dengan luas tanah 330 m2 ( luas bangunan 150m2)  dirubah menjadi sebuah kapel. Bangku-bangku kayu yang digunakan merupakan bantuan dari umat.

 

Tahun 1972

Di Paroki mulai berkarya para suster dari terekat FMM dan ADSK (Abdi Dalem Sang Kristus). Para suster FMM ditempatkan di daerah Galur Selatan dan para suster ADSK ditempatkan di susteran komplek St. Mikael.

Pada tanggal 11 April 1972, Sekolah Strada cabang Tanah Tinggi secara resmi lepas dari Perkumpulan Strada dan berubah menjadi sekolah milik Paroki Santo Paskalis.

 

Tahun 1975

Tanggal 14 Desember 1975 dengan Nomor Akta 30, dibentuk Badan Pengurus Yayasan Paskalis. Pengelolaan sekolah dipisahkan dari Gereja. Pengurus Yayasan memberi pertanggungjawaban kepada Pengurus Gereja dan Dana Papa (PGDP) Santo Paskalis. Sebagai Ketua Yayasan Paskalis yang pertama Pastor Ben Tentua, OFM.

 

Tahun 1976

Selama periode era tahun 70-an Paroki mengalami pasang surut kehidupan menggereja. Mulai dari masalah berkurangnya kunjungan ke rumah-rumah umat, lesunya kegiatan-kegiatan lingkungan dan wilayah hingga munculnya dualisme kepengurusan Paroki (antara PGDP dengan Dewan Paroki). Masalah yang tidak terselesaikan menjadikan umat gelisah dan apatis. Hal ini juga mempengaruhi para pendidik di sekolah yang dikelolah oleh Paroki.

Akhirnya pada bulan Agustus 1976, Pastor G. Brod,OFM, sebagai Pastor Kepala mengambil keputusan tegas berupa: pembubaran Dewan Paroki; para pengurus PGDP diminta untuk mengundurkan diri secara sukarela dari jabatannya masing-masing dan pembubaran para pengurus Yayasan Paskalis.

Langkah selanjutnya dibentuk kepengurusan Dewan Paroki yang baru sekaligus merangkap PGDP yang terdiri dari : Pastor G. Brod,OFM (Ketua); J. Soetarmo (Sekretaris); Drs. Soecipto (Bendahara); L. Soetrisna (Anggota) dan Ir. Rob Sudarjanto (Anggota/merangkap Ketua Yayasan Paskalis). Seiring waktu karena pindah tugas, Drs. Soecipto (Bendahara) digantikan oleh Drs. Hartono.

 

Tahun 1977

Saat Pastor Michael Angkur memimpin misa di kapel Lourdes beliau merasa prihatin dengan kondisi bangunan kapel. Maka sewaktu beliau berkunjung ke negeri Belanda, beliau sekaligus mencari dana bagi kapel ini. Dari hasil pencarian dana ini di dapat Rp. 30.000.000,- dan disimpan di Bank Manhattan.

ME diperkenalkan di gereja St. Paskalis. Bpk I.P. Slamet dan Ibu Sri menjadi pasutri (pasangan suami isteri) pertama dari gereja St. Paskalis yang mengikuti WE ME.

 

Tahun 1978

Seiring dengan berjalannya waktu, jumlah umat semakin bertambah sementara gedung gereja sudah tidak memadai dan terjadi pelebaran jalan Letjen Suprapto yang memakan lahan parkir. Mempertimbangkan hal tersebut akhirnya Dewan Paroki memutuskan untuk mencari lokasi baru dengan lahan yang lebih luas. Pastor G. Brod,OFM sebagai Pastor Kepala melapor kepada Uskup Mgr. Leo Sukoto,SJ tentang hal diatas dan Uskup menyetujui dan juga bersedia untuk memberikan bantuan.

Paroki membeli tanah di belakang kapel Lourdes seluas 220 m2. Proses pembelian diurus oleh Bp. Paimin dan Bp. Sukiman dengan di biayai sepenuhnya oleh Paroki.

 

Tahun 1979

Ketua Wilayah Asisi pada waktu itu Bp. Wim Tanuwijaya, memberitahu bahwa ada tanah bekas pabrik es seluas 4.260 m2, letaknya di pinggir jalan Letjen Suprapto. Gereja mengutus Bp. Ir. John Haruman dan Bp. Ir. A.J.Wiyono untuk menemui pemilik tanah, Dr.Lie Kioen Fie. Tanah akhirnya terbeli. Biaya yang dikeluarkn sampai selesai pengurusan Akte jual beli sebesar Rp. 200.000.000,- (Dua ratus juta rupiah). Dana didapat dari Kas Paroki, pinjaman/bantuan dari KAJ sebesar Rp. 100.000.000,-; pinjaman dari Yayasan Paskalis sebesar US$ 100.000,- dan sisanya dari usaha-usaha pencarian dana yang diprakarsai oleh Pastor Michael Angkur,OFM.

 

Tahun 1980

Dimulainya pengurusan Ijin Mendirikan Bangunan (IMB).  Ijin ini pun tidak didapat dengan mudah. Berbelit-belit dan memakan waktu lama.

 

Tahun 1985

Setelah berjuang selama 5 tahun, akhirnya pada bulan Desember 1985 keluarlah ijin berupa SK Gubernur DKI Jakarta yang pada waktu itu adalah Tjokropranolo.

Pada tahun ini juga dibentuk Panitia Pembangunan Gedung Kapel yang terdiri dari : Bp. Santoso (Ketua); Bp. St.Suhendro (Wakil Ketua); Bp. Y.Suyono (Sekretaris); Bp. Sukiman dan Bp. Bene K.Hutler (Bendahara). Peletakan batu pertama dilakukan oleh Pastor Kepala pada waktu itu yaitu Pastor Aegidius Ngarut,OFM. Bangunan gedung Kapel baru seluas 250 m2 dapat terselesaikan pada tanggal 25 Desember 1985. Gedung ini mampu menampung +/-300 orang.

 

Tahun 1986

Dengan bermodal SK Gubernur proses dimulailah proses tender yang diikuti oleh beberapa kontraktor. Gereja memilih Bp. Ir. John Haruman sebagai penanggung jawab pembangunan. Pada tanggal 29 Desember 1986 dilakukan peletakkan batu pertama yang berisi surat prasasti yang ditandatangani oleh Mgr. Leo Sukoto,SJ. Upacara dipimpin oleh Pastor Paroki pada saat itu, Pastor Aegidius A. Ngarut,OFM. Panitia pembangunan diketuai oleh Bp. Yos Tanjung,SH dan ketua panitia dana Pendeta Sindal.

Tanggal 6 Oktober 1986 Gedung Serba Guna Lourdes diresmikan oleh Uskup Agung Jakarta, Mgr. Leo Sukoto,SJ. Peristiwa ini juga menandakan perubahan nama dari Wilayah Kemayoran menjadi Wilayah Lourdes yang terdiri dari 6 lingkungan.

Pada tanggal 19 Oktober 1986, Perhimpunan Warakawuri Katolik (PWK) St. Monica Cabang St. Paskalis didirikan oleh Pastor Aegidius Ngarut, OFM dengan Ketuanya Ibu Maria Suyati yang beranggotakan 46 orang.

 

Tahun 1987

Pada tanggal 17 Juni 1987 diselenggarakan Upacara Peresmian Penggunaan Bangunan Gereja St. Paskalis, Paroki Cempaka Putih dan diadakanlah Misa Agung yang dipimpin oleh Uskup Agung KAJ, Mgr. Leo Sukoto,SJ.

 

Tahun 1999

Tanggal 10 April – 15 Mei 1999 berlangsung Perayaam Pesta Nama Pelindung Paroki dan Hari Jadi Mudika Paroki St. Paskalis. Kegiatan ini sepenuhnya melibatkan para kaum muda Katolik Paroki yang tergabung dalam Mudika Wilayah, Kelompok Lektor/Lektris, Misdinar, PDKK Mudika, Legio Maria, Teater Gelis dan dikoordinator oleh Kelompok Parkir.

Bertolak dari kegiatan ini, Seksi Keoemudaan mengusulkan diadakannya kegiatan Peringatan 50 th Gereja St. Paskalis. Usul didukung penuh oleh Pastor Aloysius Ombos, OFM sebagai Pastor Kepala pada saat itu.

Bulan November 1999, terjadi pergantian kepengurusan Mudika Paroki dan juga pergantian nama dari Mudika Paroki menjadi Forum Kepemudaan (FORKEP).

 

Tahun 2000

Pada tanggal 6 Oktober 2000, menindaklanjuti anjuran KAJ dan atas prakarsa Pastor Aloysius Ombos, OFM sebagai Pastor Kepala, terbentuk Paguyuban Lansia Simeon-Hanna di Gereja St. Paskalis. Sebagai Ketuanya Bp. Paulus Budiman dan Sekretaris Ibu CM. Marianti Soewandi.

Menjelang akhir tahun 2000, Seksi Kepemudaan (Sikep) menyusun Term of Refrence (TOR) Pesta Emas Paroki Santo Paskalis yang disingkat menjadi PEPSI.

 

Tahun 2001

TOR yang disusun oleh Sikep selesai pada bulan April 2001 dan dibahas dalam rapat tahunan Forkep pada bulan Mei 2001. Hasil raker menetapkan bahwa acara PEPSI akan berisi 21 macam kegiatan dan berlangsung mulai awal Agustus 2001 sampai akhir Juni 2002.

Tujuan dari kegiatan ini untuk mengucap syukur dan untuk dapat melayani lebih giat dan tekun berlandaskan semangat cinta kasih serta senantiasa menumbuhkan semangat kebersamaan dalam kehidupan berkeluarga dan bermasyarakat.

Tanggal 5 Agustus 2001, Dewan Pleno Paroki menetapkan TOR PEPSI menjadi kegiatan resmi paroki. Panitia disusun dan diangkat berdasarkan SK Ketua DP-PGDP nomor 22 tanggal 11 Agustus 2001.

Tanggal 12 Agustus 2001, dimulai kegiatan Pesta Emas berupa perlombaan Logo.

Dikarenakan adanya pergantian pengurus Dewan Pleno pada bulan Desember 2001, susunan panitia PEPSI sedikit berubah dan nama kegiatan diganti menjadi Pesta Emas Gereja St. Paskalis (PEGSI).

 

Tahun 2002

Tanggal 2 Maret 2002, selesainya kegiatan pemugaran Gua Maria. Gua Maria ini diresmikan dalam Misa Kudus yang dipimpin oleh Romo Lazarus Subagi, OFM dan diberi nama Gua Santa Maria Degli Angeli oleh Romo Eddy Kristiyanto, OFM.

 

Tahun 2003

Tanggal 11 Mei 2003, berkat dukungan Romo Subagi, sebagai Pastor Kepala, Bp. M Soenaryo (alm) dan Dr. F. Arifin, gereja Paskalis berhasil membangun Balai Pengobatan menjadi sebuah Klinik yang dapat melayani secara lebih baik dan profesional.

 

Tahun 2008

Awal bulan Mei 2008 dibentuk Panitia Renovasi. Bertepatan dengan peringatan HUT Gereja Santo Paskalis yang ke-56, tanggal 17 Mei 2008 dimulailah penggalangan dana untuk renovasi gedung gereja. Berbekal Surat Ijin dari Keuskupan Agung Jakarta No.343/3.25.4.25/2008,tgl. 4 September 2008, ditandatangani langsung Mgr. Kardinal Darmaatmaja, panitia mencari dana ke paroki-paroki lain di wilayah KAJ dan memulai pekerjaan renovasi.

 

Tahun 2009

Renovasi gedung gereja dimulai pada tanggal 5 Januari 2009. Renovasi berlangsung selama 2 bulan 3 minggu. Tepat pada tanggal 25 Maret 2009, renovasi dinyatakan selesai. Total biaya yang dikeluarkan +/- Rp. 2,7 Milyar. (Cerita lengkap dapat dilihat di tulisan Renovasi Gereja Paskalis).

Pada tanggal 28 Oktober 2009 ME Sundari (sudah sendiri, karena salah satu pasangannya sudah dipanggil Tuhan) didirikan di Paroki Cempaka Putih dengan Ketuanya Pasutri Philipus Hartanto – Betty (†)

 

Tahun 2011

Pada bulan Mei 2011, sesuai hasil Raker Dewan Pleno pada bulan November 2010, dibentuklah Panitia Perayaan 60 th Gereja St. Paskalis yang perayaannya diadakan mulai Mei 2011 sampai dengan Mei 2012. Perayaan 60 th ini diawali dengan Doa Rosario Berantai dari rumah ke rumah umat di paroki Cempaka Putih selama 1 tahun penuh.

Bulan Agustus 2011, diluncurkan Program Ayo Sekolah Gereja St. Paskalis dengan diketuai oleh Bp. Hendra Andreas Budi Yuwono.

Tanggal 8 Mei 2011, jam 11.00 di Aula Fransiskus terbentuk kepengurusan Tim Pelayanan Penjara Paroki Paskalis (TP4). TP4 terbentuk setelah adanya Sosialisasi Foru Pelayanan Penjara KAJ yang diberikan Dr. Irene tanggal 21 April 2011 di Aula Atas Gereja St. Paskalis. Pastor Christoforus Tara, OFM ikut memprakarsai pembentukan TP4 ini. Sebagai Koordinator TP4 terpilih Ibu Fransiska Kunti.

Tanggal 30 November 2011, Klinik Paskalis selesai direnovasi dan diresmikan penggunaannya oleh Pastor Yosef Tote Tolok, OFM.

 

Tahun 2012

Tanggal 19 Mei 2012, dilaksanakan Misa Syukur bersama Uskup Agung Jakarta Mgr. Ignatius Suharyo dan Acara Hiburan sebagai puncak acara perayaan 60 tahun gereja St. Paskalis.

Date Updates
Sel, 10/01/2017 - 22:54
Kategori