INTIMASI DI DALAM KELUARGA

MENJAUHKAN KITA DARI KEKERINGAN HIDUP BERSAMA

Keluarga Katolik yang terkasih, bulan kasih sayang dirayakan oleh banyak orang dengan puncaknya di hari Valentine. Bulan ini boleh kita namakan sebagaibulan intimasi juga. Kita ingin mengubah paradigma Valentine’s Day, bukan hanya semata sebagai hari-hari berkasih-kasihan, tetapi mengembangkan intimasi yang membangun nilai kedekatan dan keakraban setiap orang yang saling mengasihi. Setiap kita membutuhkan intimasi sebagai landasan relasi yang sehat dan nyaman.

Kedekatan dan intimasi itu suatu yang sejalan seiring bagi suatu relasi. Kita tidak bisa mengatakan suatu intimasi jika tidak ada kedekatan, demikian sebaliknya. Orang tidak bisa mengatakan bahwa dirinya dekat jika tidak ada intimasi, melalui bicara, sentuhan, keterbukaan, dan rasa nyaman. Demikian orang tidak bisa mengatakan dirinya intim jika tidak pernah ada kedekatan fisik yang wajar. Di antara kita banyak  anggapan bahwa mengirim SMS saja cukup untuk mengatakan bahwa anak atau pasangan kita dekat dengan kita. Tidak demikian adanya.

Memang barangkali intimasi belum menjadi budaya kita. Banyak yang masih merasa sungkan atau risih menyampaikan rasa sayang, memuji dengan tulus dan kata-kata. Intimasi memang lekat dengan komunikasi dan cara berbicara yang baik dan penuh perasaan. Bicara dengan akal atau rasio saja tidak cukup untuk menyatakan dukungan dan cinta kepada anak-anak atau pasangan kita. Tetapi, mengusahakan intimasi adalah budaya yang mutlak perlu, supaya anggota keluarga menjadi lebih dekat dan nyaman

Intimasi sering diandaikan dan disalahmengerti oleh kita semua. Kita mengandaikan dekat hanya karna pasangan dan anak-anak setiap hari masih pulang dan tinggal serumah. Kita pikir bahwa mereka yang masih mau makan di meja makan itu adalah orang-orang yang dekat. Kita tidak tahu isi perasaan dan isi hatinya. Intimasi bukanlah suatu kedekatan fisik belaka, tetapi harus disertai dengan pemahaman perasaan dan bahkan berbagi (sharing) rasa terdalam dari setiap anggota keluarga.

Ketika orang kurang intimasi, maka segala sesuatu akan menjadi formal dan kering. Anak yang selalu pulang dan pergi dari rumah tanpa permisi tidak lain sebagai anak kos di rumah itu. Kurangnya intimasi membuat perasaan tergantung berkurang dan akhirnya merasa tidak saling membutuhkan. Apa salahnya bertanya perasaannya saat ini? Mengapa takut membagikan rasa bahagia, kecewa, marah, sedih, malu dll.? Jika seorang cukup intim, maka ia akan dengan mudah membuka dirinya. Intimasi sungguh suatu dasar hubungan yang sesungguhnya bagi keluarga.

Kita bisa salah mengerti intimasi. Kita bisa saja mengartikan intimasi sebagai suatu rayuan atau “lobi”. Atau kita merasa orang yang mengekspresikan intimasinya sebagai orang yang lemah atau “Sok dekat”. Ketika orang salah mengartikan intimasi, maka intimasi justru menjadi kebiasaan yang kaku. Anak yang mengambil hati ibunya agar mendapat ijin barangkali bukan mengungkapkan intimasi, tetapi mengakali ibunya dengan rayuan itu. Intimasi bahkan menginginkan kebaikan bersama, karena merasa sayang satu sama lain.

Jika kita salah menerapkan intimasi, atau kita melakukannya kepada orang-orang di luar rumah tanpa sadar dan tanpa kontrol, misalnya kepada teman di kantor, barangkali hasilnya justru berbeda. Intimasi perlu diterapkan pada orang-orang di luar batas profesi belaka. Intimasi dialami oleh orang-orang yang memang semestinya dekat dan selalu terhubung dalam hidupnya. Kita tidak perlu intim dengan penjual roti di jalan. Kita tidak perlu terlalu intim dengan boss, kita juga tidak perlu intim dengan dokter yang merawat kita. Tetapi pasti kita perlu intim dengan orangtua atau anak-anak yang selalu berada dekat dengan kita.

Keluarga yang terkasih,Intimasi adalah obat yang manjur membangun kedekatan. Seorang anak yang selalu bermasalah dengan orangtuanya, barangkali perlu membangun komunikasi yang intim dengannya. Intimasi bahkan bisa membuat proses memaafkan dan mengampuni menjadi lebih mudah. Kita dapat membuat hidup bersama menjadi lebih ringan jika kita selalu merindukan bicara dengan saudara-saudari dan orangtua kita di rumah. intimasi bisa menjadi obat yang manjur ketika persoalan berat melanda kita, karena kita dapat berbagi rasa.

Syukur kepada Allah bahwa Dia mendekatkan kita melalui suatu kedekatan yang lembut. Intimasi memudahkan transfer pengetahuan dan nilai, karena dengan kedekatan yang sehat, dibangun kepercayaan antara orang-orang serumah. Anak-anak akan lebih mudah didampingi jika merasa dekat dengan orangtuanya. Mereka akan lebih percaya jika orangtua memberi peneguhan dengan perasaan nyaman dan kasih sayang yang tulus.

Keluarga-keluarga Katolik yang terkasih, mari menjadikan intimasi menjadi Ïsi hari-hari cinta kasih kita. Kita jadikan kesadaran membangun intimasi sebagai budaya yang wajar dan sehat di rumah kita lebih dahulu. Membiasakan sapaan wajar, sepenuh hati, ucapan minta tolong, sentuhan kasih, atau permohonan maaf dari hati sebagai bagian tak terpisahkan dari cara berkomunikasi kita. Tuhan hadir dalam peristiwa indah itu setiap hari. Roma 12:9 mengatakan, Alexander Erwin MSFRSAMAdah itu setiap hari.ong, sentuhan kasih, atau permohonan maaf dari hati sebagai bagian tak terpisahkan d"Hendaklah kasih itu jangan pura-pura! Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik.“ (Alexander Erwin MSF)

Tipe